Jama'ah Penuh Berkah

Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah antara qiyadah dan jundiyah menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan.

Bekerja Untuk Indonesia

Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, Maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (9:105)

Inilah Jalan Kami

Katakanlah: Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik. (12:108)

Biduk Kebersamaan

Biduk kebersamaan kita terus berjalan. Dia telah menembus belukar, menaiki tebing, membelah laut. Sayatan luka, rasa sakit, air mata adalah bagian dari tabiat jalan yang sedang kita lalui. Dan kita tak pernah berhenti menyusurinya, mengikuti arus waktu yang juga tak pernah berhenti.

Kesungguhan Membangun Peradaban

Semua kesungguhan akan menjumpai hasilnya. Ini bukan kata mutiara, namun itulah kenyataannya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang diusahakan dengan sepenuh kesungguhan.

Rabu, 16 Februari 2011

SYIAR TARBAWI USBU’ RUHI RABI’UL AWAL 1432 H


DPRa PKS KAPUK MUARA

SYIAR TARBAWI USBU’ RUHI RABI’UL AWAL 1432 H

(OPTIMALISASI RABI’UL AWAL DAN AYYAMUL BIDH)
...”فَاني مُبَاه بكُمُ الأُمَمَ يَوْمَ القيامَة”...
“Agar Rasulullah saw. Bangga dengan Kita”

Bulan Rabi’ul Awal 1431 H telah tiba. Di tengah gegap-gempita perayaan Maulid Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalam di mana-mana, sebagai kader dakwah, ada yang harus kita lakukan di bulan ini untuk mewujudkan kebanggan Rasulullah saw. kepada kita. Kebanggaan itu hanya bisa tercapai jika kita adalah umat yang banyak dan berkualitas.
Untuk itu, Bidang Kaderisasi Partai Keadilan Sejahtera Pusat menyerukan kepada seluruh kader untuk:
1. Menjadikan pekan yang di dalamnya ada ayyamul bidh (tanggal 16-18 Februari 2011) sebagai Usbu’ Ruhi (pekan ruhiyah), dengan agenda utama:
a. Shalat fardhu berjamaah di masjid terutama Isya’ dan Subuh,
b. Shalat rawatib minimal 12 rakaat,
c. Qiyamullail setiap malam,
d. Shalat witir setiap malam (sebelum atau sesudah tidur)
e. Shalat Dhuha
f. Puasa ayyamul bidh
g. Memberi buka kepada mereka yang berpuasa
h. Tilawah Al-Qur’an lebih dari 1 juz setiap hari
i. Wazhifah Kubra minimal sekali setiap hari
j. Membaca wirid doa seperti di bawah ini:
ورد الدعاء:
(أستغفر الله) مائة مرة , (اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه وسلم) مائة مرة , (لا إله إلا الله) مائة مرة
(Wirid ini dibaca setelah sholat subuh dan sore hari setelah sholat magrib atau sholat Isya atau sebelum tidur).
k. Berdoa untuk kemaslahatan dakwah, para qiyadah dan para aktivisnya, kepada seluruh ikhwah, untuk diri sendiri dan keluarga dengan doa yang dihafalnya.

2. Terkait dengan rekrutmen kader baru:
a. Murabbi mengevaluasi program rekrutmen di grupnya.
b. Halaqah melakukan program akselerasi untuk mencapai target
3. Struktur DAKWAH menyelenggarakan Ifthar Jama’i pada salah satu hari Ayyamul Bidh dengan agenda:
a. Pembukaan
b. Tasmi Al-Qur’an
c. Wazhifah Kubra
e. Ta’jil ifthar
f. Sholat Maghrib jama’ah
g. Makan malam bersama dan ramah-tamah

4. KADERISASI memutaba’ah pelaksanaan Usbu’ Ruhi ini.
Demikian syiar ini disampaikan agar menjadi perhatian semua kader; dan kepada para murobbi agar mendorong dan memutabaah terlaksananya syiar ini.

Jakarta, Rabi’ul Awal 1432 H/Februari 2011 M

Bidang Kaderisasi Partai Keadilan Sejahtera

Inspirasi Merapi untuk Politik Kontribusi PKS

DPRa PKS KAPUK MUARA

Inspirasi Merapi untuk Politik Kontribusi PKS


“Mereka yang terlebih dahulu merangkul perubahan yang perlu akan menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya.”
(John Naisbitt)


Untuk mewujudkan diri sebagai partai yang bisa diterima masyarakat luas hingga beroleh pada raihan suara melesat dalam tiga besar pemenang pemilihan umum 2014, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tampaknya perlu berkaca pada keberadaan Gunung Merapi.

Bila dalam erupsi akhir Oktober dan awal November tahun lalu aktivis PKS banyak yang melibatkan menjadi relawan, maka kini mereka bisa menjadikan gunung teraktif di tanah air itu sebagai inspirasi mencapai kemenangan. Tentu saja sebuah kemenangan dengan cara elegan dan mendapat dukungan luas secara tulus.

Apa sebenarnya inspirasi Merapi bagi kerja-kerja PKS di masa mendatang? Di lain pihak, mengapa aktivis PKS dirasa perlu belajar pada hikmah keberadaan dan bencana Merapi, dan tidak sekadar melakukan aksi-aksi rutinitas namun minim refleksi?
Inspirasi Merapi

Awan panas Merapi memang kini sudah berakhir. Warga-warga di lereng Merapi sudah bisa mendatangi reruntuhan bekas rumahnya. Namun ketenangan serupa masih belum bisa dinikmati warga di kali (sungai) yang dilalui lahar dingin Merapi.

Masih belum ada kepastian kapan banjir lahar dingin Merapi yang sempat memutuskan jalur Yogyakarta dan Magelang benar-benar berhenti mengancam. Material pasir dan batu berhamburan di jalan-jalan yang dilewati kendaraan. Sudah ratusan rumah rusak akibat terjangan material banjir lahar dingin di jalur Kali Putih itu.

Saat erupsi terjadi ratusan rumah warga di lereng Merapi, baik yang ada di Sleman, Klaten, Magelang dan Boyolali merasakan bagaimana dampak awan panas. Ratusan rumah di kawasan Merapi, terutama Sleman dan Klaten, sudah tidak berwujud lagi. Abu vulkanik, batu dan pasir bahkan menjadikan kawasan seperti Cangkingan, Sleman, tak ubahnya padang pasir—dari sebelumnya sebuah kawasan hijau dengan pepohonan dan rerumputan.

Mari kita ambil pelajaran dari bencana alam itu. Kendati Merapi telah memuntahkan tak kurang 140 juta meter kubik materialnya, berikut dengan beragam ancamannya bagi makhluk hidup di sana, tetap saja warga di lereng Merapi mencintai gunung itu. Musibah erupsi tahun lalu memang mengejutkan mereka, namun ini tak berarti warga membenci Merapi atau serta-merta meninggalkannya. Justru sebaliknya, mereka masih ingin bertahan tinggal di lereng-lereng Merapi, kendati pemerintah sudah melarang keras. Kedekatan yang terbangun sejak kecil tampaknya sulit memisahkan relasi warga dan Merapi. Maka, bisa dimengerti betapa peliknya merelokasi warga agar tidak lagi tinggal di zona merah Merapi.

Dengan kekuatan letusan yang dimiliknya, tetap saja Merapi dicintai warga, alih-alih takut atau menghindar. Maklum saja, berkah Allah yang diturunkan lewat kehadiran Merapi sudah lama dinikmati warga secara turun-temurun. Sejatinya, kawasan Merapi memang tidak benar-benar aman untuk dijadikan hunian. Namun, ini toh tak menyurutkan keinginan warga untuk menikmati kehadiran Merapi. Awan panas dan banjir lahar dingin sepertinya dipandang mekanisme alami dari Merapi. Warga sudah terbiasa atau membiasakan dengan kenyataan ini. Mereka sadar, di balik kejadian terkait Merapi ada dampak positif atau berkah yang diturunkan oleh Sang Maha Pencipta.

Dalam konteks kedekatan Merapi dan manusia di sekitarnya, awan panas dan banjir lahar dingin dapat dilihat sebagai sebuah kritik. Kritik terhadap perilaku manusia yang telah melenceng dari keharmonisan dengan alam sekitar. Adanya awan panas atau banjir lahar dingin seolah hendak mengingatkan manusia untuk berbuat lebih baik secara berkualitas. Tidak ada lagi perusakan dan penyelewengan. Perusakan manusia terhadap kawasan hutan lindung atau sumber mata air atas nama pembangunan, sudah saatnya dikritik. Demikian pula peruntukan hunian-hunian di kawasan Merapi yang sebagian di antaranya justru dimanfaatkan untuk aktivitas asusila.

Atas penyelewengan itu, Merapi melakukan kritik. Kritik itu peringatan dari Allah agar manusia di sana kembali ke koridor jalan yang dikehendaki-Nya. Kritik Merapi sendiri dalam jangka pendek memang amat merusak. Bahkan begitu mengenaskan, dengan meninggalnya ratusan nyawa manusia. Belum lagi kehilangan hewan dan tumbuhan.

Tahan Kritik

Kritik atas penyelewengan amanah kekuasaan tak ubahnya dengan awan panas atau banjir lahar dingin Merapi. Dalam ranah politik, penguasalah yang dikritik; dalam bencana Merapi, manusialah yang dikritik. Kritik yang dilakukan partai politik merupakan tugas sekaligus kewajiban agar praktik kekuasaan di pemerintahan berjalan dengan benar. Agar amanat rakyat bagi yang dimandati tetap dijalankan sesuai aturan. Dan aturan yang dihasilkan juga merupakan mekanisme yang mendahulukan kepentingan rakyat kebanyakan.

Merapi sejatinya memberikan inspirasi bagi partai-partai politik tentang aktivitas kritik dan kesetiaan dalam bekerja. Kendati awan panas dan banjir lahar dinginnya memunculkan banyak kerugian, namun dalam jangka panjang kritik Merapi itu berbuah manis. Abu vulkaniknya menyuburkan tanah-tanah. Pasir dan batu yang kini melimpah ruah juga aset luar biasa untuk dikelola pada hari-hari setelah bencana. Ini baru secara material. Belum dari sisi material, semisal menjadi bahan refleksi untuk mengelola Merapi agar terbangun kawasan hiburan (seperti Kaliurang) dengan brand positif. Kawasan wisata erupsi seperti sekarang jelas lebih mendidik daripada menjadikan kawasan wisata sekadar tempat hiburan yang sesekali diseliai prostitusi sembunyi-sembunyi.

Kerja-kerja partai politik dalam mengkritik kekuasaan tidak harus selalu berbentuk aktivitas di parlemen atau demonstrasi di jalanan. Aksi-aksi sosial kemanusiaan juga merupakan bentuk kritik terhadap lambannya empati pemerintah dalam mengatasi bencana. Yang dilakukan PKS, baik di parlemen maupun di saat-saat bencana, merupakan praksis dari mengisi kelemahan kekuasaan saat rakyat membutuhkan pertolongan.

Memang tindakan partai politik dalam melakukan aksi nyata di masyarakat tidak selalu berujung dengan simpati. Belakangan ini makin banyak partai politik menerjunkan diri di area bencana seperti di Merapi dan bencana alam yang terjadi belakangan ini. Keberadaan spanduk yang seolah unjuk eksistensi akhirnya menuai antipati publik. Meski tidak menolak keberadaan partai politik di lokasi bencana, masyarakat seperti berhati-hati terhadap ketulusan mereka.

Fenomena perang spanduk memang tidak bisa dimungkiri ekses psikologisnya bagi warga korban bencana. Namun apakah ini harus dibiarkan begitu saja? PKS yang getol melakukan aksi-aksi kemanusiaan jauh sebelum aktivitas ini populer diikuti partai politik lain, tampaknya perlu belajar dari Merapi. Ya, belajar bagaimana kritik Merapi justru melahirkan empati.

Boleh jadi aktivitas kemanusiaan PKS di lokasi bencana memang tulus tanpa pretensi cari muka. Bahwa ada atribut di pasang di beberapa lokasi, ini semata unjuk identitas agar mudah dikenali saja. Pun demikian, boleh jadi aktivitas politik politisi PKS di parlemen memang ikhlas manakala menolak kehadiran dua komisioner KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) lantaran masih kontroversinya soal deponering keduanya. Dalam dua contoh ini, kontribusi PKS tidak selalu ditangkap seperti yang dikehendaki. Keikhlasan dan ketakpamrihan aktivis PKS bisa saja melahirkan tudingan macam-macam. Inilah yang terjadi hari, sebagai fakta yang harus disikapi oleh para aktivis partai ini.

Mengapa dulu saat belum ada partai politik yang menerjunkan diri di lokasi-lokasi bencana, dan baru PKS yang melakukannya, masyarakat bisa menerima tanpa ada curiga? Jawabannya mudah: masyarakat merasakan manfaat langsung, dan saat yang sama aroma politisasi belum terasa. Apakah politisasi bencana tidak ada sama sekali? Tidak tepat juga. Bagaimanapun juga dalam beragam ranah kehidupan, PKS senantiasa melakukan politik kontribusi; di mana saja mereka selalu bekerja dan beramal bagi publik. Soal ikhlas atau tidaknya ini perkara lain karena terkait isi hati manusia.

Lain cerita saat PKS kian besar. Prasangka politisasi terhadap politik kontribusi PKS dalam bencana kerap hadir. PKS dinilai memolitisi bantuan yang diberikannya guna merekrut anggota atau simpatisan. Dalam konteks perpolitikan, pemolitikan bantuan sebenarnya biasa saja. Siapa saja boleh melakukan perekrutan atau penarikan simpati terhadap orang lain. Tinggal bagaimana caranya, apakah bertabrakan dengan hukum atau tidak; dilakukan dengan mendidik ataukah paksaan. Persoalan dicurigainya PKS tidak terlepas dari hawa persaingan atau kekhawatiran dengan pihak lain atas membesarnya PKS. Mudah saja yang dilakukan: tuding miring kerja-kerja PKS, baik saat di lokasi bencana ataupun saat kiprah di parlemen dan panggung politik nasional.
Saat PKS belum sebesar dan sekuat seperti sekarang, rasa-rasanya tidak perlu diherankan bila banyak pihak tak menaruh curiga. PKS masih dipandang remaja polos yang tidak punya pretensi dalam bertindak. Namun, rupanya lain cerita untuk keadaan sekarang. Kecurigaan mata ditebar di mana-mana; prasangka dan jeratan konspirasi mengintai kerja-kerja PKS, bahkan tatkala PKS ingin memberikan terbaik bagi Indonesia. Lalu apa yang mestinya dilakukan PKS?

Berani Berisiko

Setelah tersadar soal kokohnya Merapi di hati warga, saya juga teringat dengan pengalaman John Naisbitt saat bercerita pengalamannya di China dan Thailand. “Saya selalu terkagum-kagum,” kata Naisbitt dalam Mind Set! (2006), “pada energi yang dikeluarkan orang-orang Asia, terutama China, dalam menerjang segala risiko dan menjalani perubahan, asalkan mereka melihat adanya manfaat.”

Warga di lereng Merapi berani menempuh risiko tinggal di kawasan gunung aktif, karena mereka menikmati adanya benefit tinggal di sana. Bukan sebuah hidup spekulasi. Ya, manfaat! Manfaat inilah yang begitu dirasakan saat masyarakat mendapati aksi-aksi kemanusiaan PKS, atau kiprah politisi di parlemen atau panggung eksekutif. Lantas bila hari ini begitu bertubi-tubi kritik, cacian hingga hinaan pada PKS, apakah karena manfaat yang didapati masyarakat sudah pudar atau setidaknya susut?

Sejujurnya, saya harus katakan demikian. Namun ini tentu tidak berlaku seluruhnya dari setiap aktivitas atau manuver politik politisi PKS. Ada ketergelinciran dan kealpaan hingga akhirnya berbuah makian publik. Jangan dilupakan pula, ekspektasi berlebih pada PKS tatkala PKS masih dipersepsi bersih dan peduli, tidak terlalu terpenuhi di saat praktik kekuasaan saat ini sedang mengalami krisis kepercayaan publik pada titik nadirnya. PKS yang berada pada waktu yang tidak menguntungkan, mau tidak mau, ikut terciprati terkena kritik-kritik kekecewaan publik itu. Manfaat dari kinerja PKS akhirnya tertutupi oleh kekecewaan publik yang kebetulan memiliki akses membuat opini di media massa.
Mundurnya penerimaan dan simpati publik tentu bukan akhir dari jalan kiprah PKS. Seperti Merapi yang setia mengeluarkan materialnya dan memunculkan musibah, demikian pula harusnya PKS. Luncuran awan panas Merapi tak ubahnya kiprah-kiprah ekstensif PKS yang kemudian dikritik publik. Banjir lahar dingin Merapi paralel dengan aksi-aksi dan pemikiran para aktivis PKS yang kemudian melahirkan kontroversi. Selagi berpikir jangka pendek, tentu saja lahar, abu vulkanik, pasir dan batu Merapi merupakan bencana yang harus dihindari atau dicaci. Dalam jangka panjang? Ternyata ini merupakan berkah untuk disyukuri. Sekali lagi, Merapi tetap tegar sekalipun warga tidak suka dengan letusannya. Merapi tetap menjalan zikir pada-Nya dengan letusan itu, tak bergeming dengan cercaan warga yang berkeluh kesah akibat dampak erupsinya.

Persuaan yang lama akhirnya menjadikan warga sadar bahwa kritik dan pola Merapi merupakan sebuah kontribusi. Demikian pula mestinya PKS. Tidak perlu cengeng mengeluhi banyaknya cacian tak berdasar. Semua kritik tak ubahnya ekspresi cinta pada kerja-kerja PKS yang tidak atau belum optimal. Harapan yang ditaruh besar saat ditunaikan alakadarnya memang rentan menghasilkan kekecewaan, maka di sinilah ketegaran berjalan dengan kebenaran harus dilakukan. Seperti Merapi yang mengikuti garis takdir-Nya, kendati manusia tak suka Merapi ‘batuk’.

Soal kritik dari luar yang kadangkala tak berdasar akan lebih bermanfaat bila didudukkan sebagai sebuah asupan untuk memperbaiki kerja-kerja PKS di masa mendatang. Saya teringat dengan telaah Ustadz Yusuf Qaradhawi dalam karyanya, Umat Islam Menyongsong Abad ke-21 (2001), “Umat kita tidak mungkin dapat memberikan manfaat dan kebaikan pada umat lain, sebelum mereka mampu memberikan manfaat pada dirinya sendiri. Perbaikan internal harus didahulukan atas perbaikan eksternal.” Jadi, kritik bagi PKS tidak lain sebuah perbaikan untuk menjadi setegar Merapi yang pada akhirnya selalu dicintai warga.

Merapi dicintai karena ada konsistensi dalam memberikan benefit. Kekonsistenan memberi sekaligus kekonsistenan dalam tulus berbagi. Bila hari ini banyak tudingan miring pada PKS soal politik kontribusinya, maka dengan konsistensi tak berumur hari, pekan atau bulan, publik akan melihat mana pihak yang sesungguhnya setia melayani. Bencana atau tidak ada bencana, ada hadiah citra ataupun tidak, semua harus dikerjakan: mengabdi, sama seperti Merapi, memberi benefit pada warga. Kritik publik, dalam kaitan ini, menjadi semacam pengingat yang baik bagi konsistensi PKS.
Konsistensi dapat dilihat dari sisi profesionalitas, yakni kesungguhan dalam memberikan pelayanan. Tidak setengah-setengah atau sekadar bekerja bila ada liputan media massa. Merapi berdiri di tengah kesepian dan kesendirian. Namun ini tak berarti dia pasif dalam memberikan manfaat bagi warga. PKS sudah semestinya tidak memedulikan cercaan di luar, bila konsistensi menghasilkan layanan berkualitas dilakukan. Publik akan melihat dalam jangka panjang apakah kiprah politisi PKS salah ataukah seusai amanat konstitusi.

Refleksi Aksi

Terkadang mereka yang melakukan pembaruan di tengah masyarakat harus siap dituduh macam-macam. Merapi dengan elok menginspirasikan bahwa berkiprah di pentas politik yang sarat suap dan intrik harus disertai keberanian melakukan perubahan. Jangka pendek bisa jadi berujung pada cercaan, tetapi jangan panjang tidak mustahil—atas izin Allah—publik akan merasakan manfaatnya. Persis seperti dikatakan Naisbitt di atas saat menyebut keberanian orang China dalam menempuh risiko. Sebagai tambahan, yang dikatakan Naisbitt pula bahwa orang Eropa cenderung melihat manfaat lebih dulu setelah itu lihat saja nanti, masih dominan menyeruak di kepala masyarakat kita. Melihat PKS secara positif bila ada manfaat yang kasat mata langsung. Bila belum terlihat manfaatnya, apalagi kontroversi, PKS harus siap menerima dengan lapang dada cercaan publik.

Kerja-kerja PKS bagi bangsa ini, sejatinya, tidak bisa dilakukan dengan semata mempertimbangkan suara-suara pengkritiknya. Tetap harus ada koridor yang dimiliki. Semacam panduan melangkah dalam membangun peradaban Indonesia ala PKS. Suara luar penting sebagai penimbang dan evaluasi apakah kerja PKS sudah tepat ataukah tidak. Dan kritikan publik tak ubahnya material Merapi, penting bagi PKS di waktu mendatang. PKS bisa menempatkan diri seperti Merapi, tegar bersama kritikan atau cercaan publik.

Dengan ketegaran itu, PKS bisa seperti Merapi; menjulang tinggi dengan tetap rendah hati memberikan kontribusi bagi warga. Dalam jangka pendek, seperti sekarang, perubahan dan aksi yang dilakukan PKS mungkin belum bisa diterima atau malah mendatangkan prasangka, tetapi dengan konsisten mengawal perubahan dengan konsistensi keikhlasan, konsistensi profesionalitas saat mendengar dan melayani aspirasi publik, maka insya Allah aksi dan manuver politik PKS dipandang sebagai sebuah kontribusi. Dengan demikian, terwujudlah apa yang diungkapkan Naisbitt di awal tulisan ini: “Mereka yang terlebih dahulu merangkul perubahan yang perlu akan menjadi pihak yang paling merasakan manfaatnya.” Resistensi terhadap perubahan berhenti jika ada manfaat nyata.

Untuk itu, sudah siapkah PKS menjadi seperti Merapi, selalu bekerja ikhlas bagi Indonesia?[]

Sumber foto:
(1)Dimas Joko; (2) Totok wijayanto (Kompas, 20 Desember 2010); (3,5,7) Dokumentasi P2BPKSSleman (http://p2bpkssleman.files.wordpress.com)
Sumber: Yusuf maulana Files

Selasa, 08 Februari 2011

Mencari-cari-alasan-kita-dan-mereka (Untukmu Kader Dakwah)



DPRa PKS KAPUK MUARA

Menjelang mukhoyyam;

'maaf, saya ada agenda keluarga keluar kota.'
'Apa tidak bisa ditunda?'
'Soalnya besuknya juga ada acara lagi.'
'Tapi ini kan mukhoyam sapu jagad akh?'
'iya, habis gimana ya....'
tetap tidak bisa

kadang2, kita menumukan kondisi diatas.
atau saat liqa

'liqa sdh mulai ini. antum dimana?'
kali ini sms
'maaf pak, saya masih kecapekan pulang kerja
izin dulu.'
capek. Bisakah jadi alasan..?

atau saat rapat

'akh, katanya antum kemarin ngga datang
saat rapat abis shubuh?
katanya cuma DPC kita yg ngga ada wakilnya?'
'afwan akh, kemarin itu hujan deras abis shubuh.
makanya saya ngga bisa berangkat.'
'hujan deras? bukannya antum punya jas hujan?
antum pernah ngga lihat saya ngga adatang karena hujan.
bukankah rumah saya lebih jauh dari antum?'
tak ada tanggapan.
Hujan. akankah jadi penghalang...?

soal alasan, kita memang suka mencari-carinya.
apalagi kalau murabbi atau pembina mudah ngasih izin
dan dari pengalaman tak pernah ada masalah dengan izin
tak ada iqab atau amarah dari atas

kitapun menikmati 'izin' yg diberikannya.
Tetapi, apakah dihadapan Allah masalahnya juga 'selesai'?

dalam masalah2 dakwah, tarbiyah, dan akhirat
orang-orang beriman tidak semestinya banyak minta izin

para pendahulu kita,
selalu bersedia memenuhi panggilan
mereka tidak minta izin

Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa(QS.9:4)

satu kali, datanglah sekumpulan orang islam
minta izin kepada Rasulullah untuk tidak ikut
dalam perang tabuk

dan Rasulullah mengizinkannya
maka turunlah firman Allah

Semoga Allah mema'afkanmu. Mengapa kamu memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang), sebelum jelas bagimu orang-orang yang benar (dalam keuzurannya) dan sebelum kamu ketahui orang-orang yang berdusta?
QS 9:43

itulah maksudnya,
andaikan pun kita diizinkan dengan alasan kita
belum tentu selesai urusan dengan Allah
karena IA Maha Tahu apa yg dalam hati kita

apakah kita merasa capek saat hendak berangkat?
tiba2 motor mogok?
tiba2 anak-anak rewel?
tiba2 inget punya PR?

waspadalah, waspadalah
ada kalanya karena dari awal azzam kita kurang kuat
niat kita kurang bulat
maka Allah tidak redho dengan itu
dan dijadikanlah kita golongan yg tertinggal
Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu."
9:46

maka jika dari awal kita berniat untuk tidak hadir, biasanya,
akan selalu muncul alasan untuk itu.

sebabnya bisa jadi, karena Allah tidak menghendaki
mereka yg niatnya tidak bulat, azzamnya kurang kuat
jika mereka ikut, bisa2 malah menambah masalah

Jika mereka berangkat bersama-sama kamu, niscaya mereka tidak menambah kamu selain dari kerusakan belaka, dan tentu mereka akan bergegas maju ke muka di celah-celah barisanmu, untuk mengadakan kekacauan di antara kamu; sedang di antara kamu ada orang-orang yang amat suka mendengarkan perkataan mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang zalim. 9:47

karena itu jika al akh, saya maksudnya, berniat tidak hadir karena alasan:

hujan lah
capek lah
panas lah
habis bensinlah
kendaraan sudah terlanjur dimasukin lah
dll lah

waspadalah,
jangan2 memang niat kita dari awal kurang bulat
dan Allah tidak suka dengan itu

tetapi ada yg lebih berat dari itu:
al akh yg tidak (ingin) hadir
dan ia tidak minta izin
ia justru menyampaikan alasan2nya ke al akh yg lain
siapa tahu ada yg mengikutinya ^_^

yg ini ayatnya agak berat
Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." Katakanlah: "Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui.


Mereka juga mencari-cari alasan

Para shahabat ra yang mulia,
mereka juga mencari-cari alasan saat terbentang sebuah amalan
lihatlah beberpa contoh berikut:

tersebutlah seorang shahabat yg mulia
Abdullah bin Mughfil namanya
saat genderang perang tabuh berkumandang
ia ingin ikut berangkat berperang

tapi ia tidak punya bekal
tidak punya senjata
tidak punya binatang tunggangan

beberapa shahabat lain juga bernasib sama
seperti Ulyah bin Yazid ra

tapi mereka semua ingin ikut tetap berangkat
ke medan jihad
datanglah mereka menemui Nabi minta perbekalan
tapi nabi bilang sudah habis itu perbekalan'
merekapun kembali dengan air mata bercucuran
sedih tak ikut berangkat

turunlah firman Allah
dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu." lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan[654]. 9:92

contoh lain, orang2 miskin di zaman Nabi SAW:


Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: Sahabat Muhajirin yang miskin datang kepada Rasulullah saw. dan mengadu: "Orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi." Beliau bertanya : "Mengapa demikian?" Mereka menjawab: "Mereka mengerjakan salat sebagaimana kami salat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, dan mereka juga bersedekah. Sedangkan kami tidak, serta mereka memerdekakan budak, tetapi kami tidak dapat memerdekakannya." Kemudian beliau bersabda: "Bolehkah aku memberitahu kalian tentang sesuatu yang dapat mengejar mereka, dan kalian akan berada dalam barisan terdepan bagi orang-orang sesudahmu, serta tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang melakukan seperti apa yang kalian lakukan?" Mereka menjawab: "Baiklah, wahai Rasulullah."Beliau menjawab: "Yaitu supaya kalian membaca tasbih (Subhanallah) membaca takbir (Allahu akbar) dan membaca tahmid (Alhamdulillah) setiap selesai salat masing-masing tiga puluh tiga kali". Tetapi, setelah itu sahabat-sahabat Muhajirin yang miskin kembali lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata: ""Saudara-saudara kami yang kaya itu mendengar apa yang kami lakukan, kemudian mereka melakukan seperti apa yang kami lakukan." Maka Rasulullah saw. bersabda: "Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki."
(HR. Bukhari dan Muslim)

mengapa disebutkan para shahabat diatas mencari2 alasan?

Ya, sebenarnya mereka kekurangan.
mereka tak punya senjata, bekal.
Mereka miskin, tak bisa berinfaq harta, apatah lg memerdekakan budak.

tetapi mereka mencari2 alasan agar bisa berjihad
mereka mencari2 alasan agar menjadi yg terbaik di hadapan Allah.

dan itulah bedanya mencari alasan kita dan mereka:

kita (khususnya saya), dengan segala kelebihan yg kita miliki
mencari2 alasan untuk tidak berperan serta dalam kebaikan

adapun para shahabat, dengan segala kekurangan yg mereka alami
mereka mencari2 alasan agar tetap berperan dalam jihad dan dakwah

maka begitulah, setiap menjelang perang:

shahabat yg masih muda, memakai sepatu berhak tinggi
mereka ingin tampak dewasa dan diikutkan dalam jihad
shahabat yg tua, mereka tunjukkan ahli memanahnya
mereka sampaikan ingin beroleh syahid di jalan-Nya

tetapi ada yg sangat monumental dari itu semua:
kisah wafatnya Abdullah bin Ummi maktum

lelaki buta yg mulia ini, dengan kekurangannya
mencari2 alasan biar ikut berperang
biar bisa syahid

tetapi khalifahpun punya alasan melarang

lelaki buta berbahaya jika ikut berperang
iya kalau yg ditebas adalah musuhnya,
bagaimana jika keliru temannya?

tetapi, lelaki buta yg mulia itu
selalu punya alasan untuk menggapai cita2 syahidnya
dan inilah kisah akhir hayatnya:

Meskipun Allah telah memaafkan Ibnu Ummi Maktum dan orang-orang udzur seperti dia untuk tidak berjihad, namun dia enggan bersantai-santai beserta orang-orang yang tidak turut berperang. Dia tetap membulatkan tekat untuk turut berperang fi sabilillah. Tekad itu timbul dalam dirinya, karena jiwa yang besar tidak dapat dikatakan besar, kecuali bila orang itu memikul pula pekerjaan besar. Maka karena itu dia sangat gandrung untuk turut berperang dan menetapkan sendiri tugasnya di medan perang.

Katanya, “Tempatkan saya antara dua barisan sebagai pembawa bendera. Saya akan memeganya erat-erat untuk kalian. Saya buta, karena itu saya pasti tidak akan lari.” Tahun keempat belas Hijriyah, Khalifah ‘Umar bin Khaththab memutuskan akan memasuki Persia dengan perang yang menentukan, untuk menggulingkan pemerintahan yang zalim, dan menggantinya dengan pemerintahan Islam yang demokratis dan bertauhid. ‘Umar memerintahkan kepada segenap Gubernur dan pembesar dalam pemerintahannya, ‘Jangan ada seorang jua pun yang ketinggalan dari orang orang bersenjata, orang yang mempunyai kuda, atau yang berani, atau yang berpikiran tajam, melainkan hadapkan semuanya kepada saya sesegera mungkin!”

Maka berkumpulah di Madinah kaum Muslimin dari segala penjuru, memenuhi panggilan Khalifah ‘Umar. Di antara mereka itu terdapat seorang prajurit buta, ‘Abdullah bin Ummi maktum. Khalifah ‘Umar mengangkat Sa’ad bin Abi Waqash menjadi panglima pasukan yang besar itu. Kemudian Khalifah memberikan intruksi-intruksi dan pengarahan kepada Sa’ad.

Setelah pasukan besar itu sampai di Qadisiyah. ‘Abdullah bin Ummi maktum memakai baju besi dan perlengkapan yang sempurna. Dia tampil sebagai pembawa bendera kaum muslimin dan berjanji akan senantiasa mengibarkannya atau mati di samping bendera itu.

Pada hari ke tiga perang Qadisiyah, perang berkecamuk dengan hebat, yang belum pernah disaksikan sebelumnya. Kaum muslimin berhasil memenangkan perang tersebut dengan kemenangan paling besar yang belum pernah direbutnya. Maka pndahlah kekuasaan kerajaan Persia yang besar ke tangan kaum muslimin. Dan runtuhlah mahligai yang termegah, dan berkibarlah bendera tauhid di bumi penyembah berhala itu.

Kemenangan yang meyakinkan itu dibayar dengan darah dan jiwa ratusan syuhada. Diantara mereka yang syahid itu terdapat ‘ Abdullah bin Ummi Maktum yang buta. Dia ditemukan terkapar di medan tempur berlumuran darah syahidnya, sambil memeluk bendera kaum muslimin

jikapun harus izin

tetapi apakah selamanya kita dilarang minta izin?

tidak juga. seperti Abdullah bin Mughfil diatas.
karena itu jikapun kita minta izin karena uzur,
beritahukanlah kepada yg berwenang,
dengan cara yg melegakan si penerima kabar:

1. sampaikan sebelum acara
2. kemukakan mengapa anda 'layak' tidak hadir
3. berikan alternatif lain.
4. lihatlah perasaan kita, apa kita nyaman dan menikmati ketidakhadiran ini?

'maaf ustadz, saya tidak bisa hadir. capek'
'afwan, ada urusan keluarga. izin'
'saya lagi lemah iman, saya mundur dari kepanitiaan'

sms2 seperti diatas, bukan melegakan
tapi bisa mendatangkan zhan:
secapek apa sih...?
sepenting apa sih..?
selemah apa sih...?

seorang pemuda menemui Nabi SAW
'Ya nabi, saya ingin berjihad, tapi ibu saya sakt keras,
mana yg harus saya dahulukan?'

'Ya Nabi, saya ingin ikut perang, tapi saya tidak punya bekal,
berilah saya bekal?
' Abdullah bin Mughfil

berkaca dari hal tsb
jadi kalaupun minta izin, sms lah yg lengkap
'pak, saya sakit, sudah 2 hari tidak masuk kerja, apa diizinkan?'
tak ada alasan kecuali si penerima sms akan mengizinkan

'pak, ibu saya meminta saya pulang, katanya penting,
apa boleh jika saya tidak hadir?'

'tad, saya harus jaga anak2, umminya sakit,
bagaimana kalau liqa dipindah di rumah saya saja?'

'tadz, saya harus lembur kerja menddadak, tidak bisa hadir.
iqab apa yg perlu saya tunaikan untuk ini?'

seorang ksatria,
selalu punya alasan layak untuk disampaikan
penutup: ada juga kabar gembiranya

dalam shahihain, dari Anas ra Rasulullah SAW bersabda
di Madinah ada sekelompok orang, tidaklah kalian melintasi lembah atau menempuh perjalanan, melainkan ia bersama kalian. Shabat bertanya, sekalipun mereka tetap di Madinah? kata Rasulullah, ya, uzur telah menahan mereka

jika memang kita punya alasan
dan alasan itu layak
jika kita menangis saat tidak berangkat
seperti Abdullah bin Mughfil
jika kita resah karena
ketidakikutsertaan kita

semoga Allah mencatat
kita termasuk dalam kafilah
yang ikut berangkat serta

wallahu a'alam

Sumber:
http://www.islamedia.web.id/2011/01/mencari-cari-alasan-kita-dan-mereka.html

Jadi ikhwan jangan Cengeng



DPRa PKS KAPUK MUARA

Jadi Ikhwan jangan cengeng..
Dikasih amanah pura-pura batuk..
Nyebutin satu persatu kerjaan biar dikira sibuk..
Afwan ane sakit.. Afwan PR ane numpuk..
Afwan ane banyak kerjaan, kalo nggak selesai bisa dituntut..
Afwan ane ngurus anu ngurus itu jadinya suntuk..
Terus dakwah gimana? digebuk?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Dikit-dikit dengerin lagunya melankolis.


Ke-GR-an tuh kalo ente melilit..
Kesehariannya malah jadi genit..
Jauh dari kaca jadi hal yang sulit..
Hati-hati kalo ditolak, bisa sakiiiittt…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Dikit-dikit SMSan sama akhwat pake Paketan SMS biar murah..
Rencana awal cuma kirim Tausyiah..
Lama-lama nanya kabar ruhiyah.. sampe kabar orang rumah..
Terselip mikir rencana walimah?
Tapi nggak berani karena terlalu wah!
Akhirnya hubungan tanpa status aja dah!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Abis nonton film palestina semangat membara..
Eh pas disuruh jadi mentor pergi entah kemana..
Semangat jadi penontonnya luar biasa..
Tapi nggak siap jadi pemainnya.. yang diartikan sama dengan hidup sengsara..
Enak ya bisa milih-milih yang enaknya aja..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Ngumpet-ngumpet buat pacaran..
Ketemuan di mol yang banyak taman..
Emang sih nggak pegangan tangan..
Cuma lirik-lirikkan dan makan bakso berduaan..
Oh romantisnya, dunia pun heran..
Kalo ketemu Murabbi atau binaan..
Mau taruh di mana tuh muka yang jerawatan?
Oh malunya sama Murabbi atau binaan?
Sama Allah? Nggak kepikiran..
Yang penting nyes nyes romantis semriwing asoy-asoy-yaannn. .

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Disuruh infaq cengar-cengir. .
Buat beli tabloid bola nggak pake mikir..
Dibilang kikir marah-marah dah tuh bibir..
Suruh tenang dan berdzikir..
Malah tangan yang ketar-ketir. .
Leher saudaranya mau dipelintir!

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..
Malah nyari Aminah..
Aminah dapet, terus Walimah..
Dakwah pun hilang di hutan antah berantah..
Dakwah yang dulu kemanakah?
Dakwah kawin lari.. lari sama Aminah..
Duh duh… Amanah Aminah..
Dakwah.. dakwah..
Kalah sama Aminah..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Buka facebook liatin foto akhwat..
Dicari yang mengkilat..
Kalo udah dapet ya tinggal sikat..
Jurus maut Ikhwan padahal gak jago silat..
“Assalammu’alaykum Ukhti, salam ukhuwah.. udah kuliah? Suka coklat?”
Disambut baik sama ukhti, mulai berpikir untuk traktir Es Krim Coklat ..
Akhwatnya terpikat..
Mau juga ditraktir secara cepat..
Asik, akhirnya bisa jg ikhtilat…
yaudah.. langsung TEMBAK CEPAT!
Akhwatnya mau-mau tapi malu bikin penat..
badan goyang-goyang kayak ulat..
Ikhwannya nyamperin dengan kata-kata yang memikat..
Kasusnya sih kebanyakan yang ‘gulat’..
Zina pun menjadi hal yang nikmat..
Udah pasti dapet laknat..
Duh.. maksiat.. maksiat…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Ilmu nggak seberapa hebat..
Udah mengatai Ustadz..
Nyadar diri woi lu tuh lulusan pesantren kilat..
Baca qur’an tajwid masih perlu banyak ralat..
Lho kok udah berani nuduh ustadz..
Semoga tuh otaknya dikasih sehat..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Status facebook tiap menit ganti..
Isinya tentang isi hati..
Buka-bukaan ngincer si wati..
Nunjukkin diri kalau lagi patah hati..
Minta komen buat dikuatin biar gak mati bunuh diri..
Duh duh.. status kok bikin ruhiyah mati..
Dikemanakan materi yang ustadz sampaikan tadi?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Ngeliat ikhwan-ikhwan yang lain deket banget sama akhwat mau ikutan..
Hidup jadi kayak sendirian di tengah hutan rambutan..
Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..
Kepala cenat-cenut kebingungan. .
Oh kasihan.. Mendingan cacingan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak preman..
Makin bingung nyari teladan..
Teladannya bukan lagi idaman..
Hidup jadi abu-abu kayak mendungnya awan..
Mau jadi putih nggak kuat nahan..
Ah biarlah kutumpahkan semua dengan cacian makian..
Akhirnya aku ikut-ikutan jadi preman..
Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Diajakain dauroh alasannya segudang..
Semangat cuma pas diajak ke warung padang..
Atau maen game bola sampe begadang..
Mata tidur pas ada lantunan tilawah yang mengundang..
Tapi mata kebuka lebar waktu nyicipin lauk rendang..
Duh.. berdendang…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Bangga disebut ikhwan.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering baca komik naruto di depan sawah..
Hidup sekarang jadinya agak mewah..
Hidup mewah emang sah..
Tapi.. kesederhanaan yang dulu berakhir sudah?

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhirnya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah…

Jadi Ikhwan jangan cengeng..

Nggak punya duit jadinya nggak dateng Liqo..
Nggak ada motor yaa halaqoh boro-boro..
Murabbi ikhlas dibikin melongo..
Binaan nggak ada satupun yang ngasih info..
Ngeliat binaan malah pada nonton tv liat presenter homo..
Adapula yang tidur sambil meluk bantal guling bentuk si komo..

Oh noo…


Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…
Jadi Ikhwan jangan cengeng…

Akhi… banyak sekali sebenarnya masalah Ikhwan..

Dimanapun harokahnya…

Akhi.. Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini..

Maka akan makin banyak Ikhwan lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor.. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm… Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah..

Akhi.. Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya.. Ikhwan-ikhwan lain sebenarnya lebih kecewa dari mu.. mereka menahan dua kekecewaan.. kecewa karena orang yang mereka percaya.. dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu.. tapi mereka tetap bertahan.. menahan dua kekecewaan… karena mereka sadar.. kekecewaan adalah hal yang manusiawi.. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati..


Akhi.. disaat engkau menjauh dari amanah.. dengan berbagai alasan.. sebenarnya, banyak ikhwan di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu.. tapi mereka sadar akan tujuan hidup.. mereka memang punya alasan.. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah.. untuk Allah.. demi Allah.. mereka.. di saat lelah yang sangat.. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud.. bukan untuk meminta sesuatu.. tapi mereka menangis.. curhat ke Allah.. berharap Allah meringankan amanah mereka.. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah…


Akhi.. Sungguh.. dakwah ini jalan yang berat.. jalan yang terjal.. Rasul berdakwah hingga giginya patah.. dilempari batu.. dilempari kotoran.. diteror.. ancaman pembunuhan….. dakwah ini berat akhi.. dakwah ini bukan sebatas teori.. tapi pengalaman dan pengamalan… tak ada kata-kata ‘Jadilah..!’ maka hal itu akan terjadi.. yang ada ‘jadilah!’ lalu kau bergerak untuk menjadikannya. . maka hal itu akan terjadi.. itulah dakwah… ilmu yang kau jadikan ia menjadi…


Akhi.. jika saudaramu selalu menangis tiap hari..

Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu..? meminjam bahumu..? berkumpul dan berjuang bersama-sama…?
Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya.. untuk berterima kasih padamu..
Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya..
“Yaa Allah.. Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku.. demi tegaknya Perintah dan laranganMu… Kuatkanlah ikatan kami…”

“Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu.”


“Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar.”


“Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu.”


“Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka.”


Aamiin Allahumma aamiin


dikutip dari tausiyah seorang sahabat...

Minggu, 16 Januari 2011

DPRa PKS KAPUK MUARA

STRUKTUR DEWAN PENGURUS CABANG PKS PENJARINGAN JAKARTA UTARA

PERIODE 2010 – 2015

KETUA UMUM : ANDRI FREDYANTO

SEKRETARIS UMUM : ABDUL KARIM

BENDAHARA UMUM : RAIS. SE.

BIDANG – BIDANG :

1. BIDANG KADERISASI: : ABUAMMAR, S.PD.

SEK. BID : ABU FATHY.

BIRO REKRUITMENT : TRIYONO, QIROMARUL RAHMAWATI

BIRO TAQWIM : YULI PURWANTO, NORITA

2. BIDANG SOSIAL & PEREMPUAN: : EMAN SUHERMAN

BIRO SOSIAL : ABDUL GHOFUR, MUSWADI

BIRO PEREMPUAN : LILIS TRIYANA

SEK.BIRO : EKA SRI M

UNIT A’ILI : HJ. DJUBAEDAH

UNIT KETAHANAN KELUARGA : HJ. IRMAWATI W.

UNIT FORSITMA : NURYATI HUSEIN.


3. BIDANG KEBIJAKAN PUBLIK & KEUMMATAN : ADIDI

BIRO KEBIJAKAN PUBLIK : RIDWAN

BIRO KEUMMATAN : RUSTONO BIN DAAN

4. BIDANG PEMUDA &

JARINGAN MOBILISASI : : TONI SUPRAPTO

BIRO PEMUDA : JAJANG MURTAQIN

BIRO JARINGAN MOBILISASI : SUROJOYO

5. BIDANG KEPANDUAN : HAMZAH KURNIAWAN

BIRO KEPANDUAN : HAMZAH

BIRO OLAHRAGA : RUDI HARTONO

SEMOGA ALLAH SWT. MENUNTUN KITA DALAM MENJAGA AMANAH INI.

Senin, 03 Januari 2011

SUSUNAN PENGURUS DPRa PKS KAPUKMUARA PERIODE 2010-2015


DPRa PKS KAPUK MUARA

SUSUNAN PENGURUS DPRa PKS KAPUKMUARA PERIODE 2010-2015

KETUA UMUM : AHMAD SAIFUL KASNO

SEKRETARIS UMUM : EKO APRIYANTO

BENDAHARA UMUM : TEDY DEFIANSYAH

SUSUNAN PENGURUS DPTW PKS DKI JAKARTA PERIODE 2010-2015


DPRa PKS KAPUK MUARA

Susunan Pengurus DPTW PKS DKI Jakarta Periode tahun 2010-2015

Kepengurusan DPW, MPW, dan DSW sudah terbentuk berdasarkan SK DPP No. 01/D/SKEP/DPP-PKS/1432. Berdasarkan SK tersebut, maka kepengurusan DPW, MPW, dan DSW Periode 2005-2010 adalah sebagai berikut :

Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW)

Ketua : Ir. Triwisaksana, MSc.

Sekretaris : Igo Ilham, SST

Ketua Komisi Legislasi,

Organisasi, dan Kewilayahan : Wasito Al Wasith, S.Ag

Ketua Komisi Pembinaan Kader

dan Perempuan : Ir. Eko Ihsanto, MSc.

Ketua Komisi Kebijakan Publik

dan Kajian Strategis : Nurmansjah Lubis, AAAIS, SE, Ak, MM

Dewan Syariah Wilayah (DSW)

Ketua : Abdurrahman Suhaemi, Lc

Sekretaris : Ahmad Yani, BA

Ketua Lajnah Hisbah dan Disiplin Syar’i : Abdullah Qomarudin, Lc.

Ketua Lajnah Arbitrase : Mahbub, Lc.

Ketua Lajnah Sumber Daya Insani : Ahmad Adnan, Lc.

Lajnah Kerjasama Keummatan : Syu’aib Zainal, Lc.

Dewan Pengurus Wilayah (DPW)

Ketua Umum : Selamat Nurdin, S.Sos, MM

Wakil Ketua Umum : Ahmad Zairofi, Lc

Sekretaris Umum : Tubagus Arif, S.Ag

Bendahara Umum : Drs. Nasrullah HN

Ketua Bidang Kaderisasi : Tolhah Nuhin, Lc.

Ketua Bidang Pembangunan Keummatan : Hidayat Rohim

Ketua Bidang Kebijakan Publik : Rois Hadayana, SH

Ketua Bidang Kepanduan dan Olah Raga : Zainal Hasyim

Ketua Bidang Generasi Muda dan Profesi : Fitra Arsil, SH, MH

Ketua Bidang Perempuan : Dra. Iceu Hernawati

Ketua Bidang Pengembangan

Ekonomi dan Kewirausahaan : Adi Susilo, MM.

Ketua Bidang Kelembagaan Sosial : Israyani, SP

Sumber : Tim Kesekretariatan DPW PKS DKI Jakarta